jump to navigation

Lokakarya Pemetaan Sistem Inovasi di Indonesia Januari 19, 2009

Posted by Tatang in Beranda.
Tags: , , , ,
2 comments

Mohon maaf sebesar-besarnya, karena ini baru sempat saya posting. Saya diminta menjadi moderator pada “Lokakarya Pemetaan Sistem Inovasi di Indonesia,” tanggal 13 Januari lalu di Gedung II BPPT. Ini merupakan kerjasama KNRT, DRN, BPPT, dan LIPI.
Kali ini, saya tidak akan mengupas “isi” lokakarya, mengingat luar biasa padat muatannya – termasuk pengayaan pertanyaan, komentar dan masukan dari peserta. Tetapi ini memang merupakan salah satu lokakarya yang saya suka – bukan karena saya yang menjadi moderator – melainkan karena nara sumber, peserta, dan “aura” lokakarya yang menurut saya sangat istimewa.
Dalam lokakarya tersebut, nara sumber utamanya adalah Ir. Ery Ricardo Nurzal, MT, MPA dari BPPT., yang selanjutnya “ditanggapi” oleh para pakar lain, yaitu Prof. Dr. Lukman Hakim (Wakil Ketua LIPI), Prof. Dr. Hermanto Siregar (Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor, Bidang Sumber Daya dan Pengembangan), dan Ir. Didit Herawan, MBA (Country Director – Motorola Indonesia).
Lokakarya dibuka secara resmi oleh Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Dr. Idwan Suhardi. Sementara itu, Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Prof. Dr. Andryanto Handoyo menyampaikan sambutan kunci.
Bagaimana dengan peserta? Tidak hanya keragaman organisasi asalnya yang menarik tetapi juga kepakaran dan antusiasme dalam diskusi. Saya merasa bersalah karena sekalipun waktunya sudah “molor” dari jadwal semula, saya tetap tidak berhasil memberi kesempatan yang banyak kepada para peserta menyampaikan pertanyaan dan masukannya. Waktu setengah hari terasa demikian singkat dalam lokakarya itu.
Aura? Nah, itu dia. Tidak sering dalam acara “semi ilmiah” demikian kita jumpai kedahagaan bergagasan dan semangat pemajuan Indonesia berbaur manis . . . Saya menangkap semangat dan harapan partisipan dari dinamika yang berkembang dalam lokakarya kali ini. Pada saat-saat injury time saja, masih banyak peserta yang sebenarnya ingin beropini.
Sekalipun acara ini berfokus pada soal pemetaan dan merupakan rangkaian dari fora sebelumnya, diskusi berkembang tidak sebatas hal tersebut [termasuk isu klaster industri]. Tetapi sekali lagi, mohon maaf. Waktu dibatasi. Mudah-mudahan ini juga bisa menjadi cara yang tepat untuk memelihara stamina. Karena perjalanan masih panjang, untuk memperjuangkan penguatan sistem inovasi di Indonesia . . .
Salam

Iklan

Riset Sistem Inovasi oleh IDRC Desember 21, 2008

Posted by Tatang in Beranda.
Tags: , ,
2 comments

Rekan di International Development Research Centre (IDRC) – Regional Office for Southeast and East Asia menginformasikan tentang salah satu hasil riset mereka berkaitan dengan dewan riset dan lembaga pendukung di negara-negara di Asia Tenggara. Riset ini dikoordinasikan oleh Dr. Randy Spence. Riset tersebut menekankan isu science, technology, and innovation systems di Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Di bulan September 2007, saya bersama Bu Tusy AA (Sekretaris DRN), dan Dr. Derry Pantjadarma, diundang menghadiri pertemuan di Singapura berdiskusi tentang topik tersebut.

Seperti juga disampaikan dalam laporan riset tersebut, banyak hal yang harus dibenahi. Semua riset dan diskusi selalu menunjukkan bahwa, jika tidak ingin semakin tertinggal, kita harus bekerja lebih cerdas dan keras memperbaiki sistem inovasi di Indonesia.

Laporan hasil riset tersebut dapat diakses di http://www.idrc.org.sg/en/ev-134445-201-1-DO_TOPIC.html.

Semoga bermanfaat.

Peningkatan Peran Dewan Riset Daerah [DRD] Desember 13, 2008

Posted by Tatang in Beranda.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Salah satu agenda penting dalam pengembangan/penguatan sistem inovasi adalah penguatan kelembagaan. Pentingnya kelembagaan, dalam arti ”organisasi dan pengorganisasian” juga telah disebutkan dalam UU No. 18/2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan  Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

”Dewan riset” (research council), baik pada tataran nasional maupun daerah, diyakini sebagai salah satu yang diperlukan dalam sistem inovasi. Dalam praktiknya di berbagai negara, peran utama suatu dewan riset biasanya adalah sebagai ”dewan penasihat” (advisory council) bagi pemerintah. Dewan riset ini memang pada dasarnya berbeda dari ”dewan kebijakan” (policy council) yang biasanya memiliki peran sebagai ”pembuat/penentu kebijakan.”

Tidak seperti yang digariskan dalam UU No. 18/2002 tersebut, dalam kenyataannya tidak (belum) semua daerah otonom membentuk Dewan Riset Daerah (DRD).

Di antara beberapa ”isu” yang ditengarai mempengaruhi hal ini adalah menyangkut : pemahaman tentang DRD; persepsi tentang lingkup tugas, fungsi dan kewenangannya; bagaimana mekanisme kerjanya; serta sarana dan mekanisme koordinasi antardaerah (DRD) dan antara DRD dengan DRN.

Untuk mengupas hal tersebut, Dewan Riset Nasional (DRN) menyelenggarakan lokakarya bertemakan ”Penguatan Kelembagaan untuk Meningkatkan Peran Dewan Riset Daerah (DRD) dalam Pembangunan Daerah,” pada hari Senin, 12 Desember 2008 di Ruang Komisi Utama Lantai 3, Gedung 2 BPPT.

Saya mendapat undangan untuk menjadi moderator pada Sesi 1 (pleno) dalam lokakarya tersebut. Ini tentu menarik buat saya. Dalam berbagai kesempatan, baik pada tingkat nasional ataupun daerah, isu-isu seperti yang disebutkan memang hampir selalu muncul.

Harapan panitia bahwa lokakarya ini akan menghasilkan beberapa kesepakatan mungkin memang tidak mudah dicapai, kecuali proses ini telah diawali dengan serangkaian aktivitas sebelumnya yang mendukung dan lokakarya tersebut memang telah dirancang dan dipersiapkan untuk khusus untuk mencapai beberapa kesepakatan.

Walaupun begitu, saya sendiri sangat berharap bahwa aktivitas tersebut akan bermanfaat dalam mendorong penguatan kelembagaan DRD di daerah-daerah otonom di Indonesia [setidaknya pada tingkat provinsi] dan hubungan kelembagaan antara DRD dengan DRN bagi pemajuan sistem inovasi di Indonesia.

Semoga.

Catatan : tulisan-tulisan berkaitan dengan topik ini juga dapat dilihat di blog opini pribadi saya dan blog terkait lain.

 

Posisi Indonesia ? September 1, 2008

Posted by Tatang in Beranda.
Tags: , , , , ,
add a comment

Bagaimana “posisi” Indonesia saat ini dalam perkembangan sistem inovasi atau kinerja iptek dan lainnya?

Mudah-mudah dalam waktu tak lama lagi lembaga resmi seperti KNRT (di sana setidaknya ada Deputi yang membidangi Pengembangan Sistem Iptek Nasional), BPPT (ada Deputi Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi) dan LIPI (ada PAPIPTEK) mengeluarkan data, indikator dan kajian tentang ini.

Lembaga internasional seperti OECD, Bank Dunia dan lainnya menerbitkan beberapa publikasi yang menggambarkan juga “posisi relatif” berbagai negara dalam hal ini. Ambil contoh Bank Dunia. Dalam agenda Knowledge for Development (K4D) dan dengan Knowledge Assessment Methodology (KAM), kita dapat melakukan exercise untuk melihat bagaimana kinerja Indonesia dan posisi relatifnya dibanding dengan negara lain. Silahkan dicoba di http://info.worldbank.org/etools/kam2/KAM_page3.asp

OECD juga secara rutin menerbitkan publikasi yang bermanfaat, misalnya adalah OECD Science, Technology and Industry Scoreboard 2007 (http://www.oecd.org/document/10/0,3343,en_2649_34409_39493962_1_1_1_1,00.html).

Beberapa informasi lain yang mungkin bermanfaat adalah:

·         Asia’s Rising Science and Technology Strength (2007)

·         Atlas of International Student Mobility

·         Education at a Glance 2007: OECD Indicators

·         Eurydice

·         NSF Science & Engineering Indicators 2008

·         NSF Science and Engineering Stats (Web)

·         Rand (2008) U.S. Competitiveness in Science and Technology

·         UNESCO Institute for Statistics

·         UNESCO Portal on Higher Education Institutions

·         US National Science Board Publications

Selamat memanfaatkan.

 

 

Pengembangan Dewan Riset Daerah (DRD) Agustus 29, 2008

Posted by Tatang in Beranda.
Tags: , , , , ,
add a comment

Apa Kabar DRD di Indonesia?

Memprihatinkan memang jika berbicara “kelembagaan” advisory (advisory council)  dalam sistem inovasi di Indonesia. Dari segi jumlah, mungkin tak lebih dari 6% dari seluruh daerah otonom di Indonesia yang telah memiliki DRD (atau kelembagaan yang berfungsi seperti DRD). Terlepas dari perbedaan pendapat perlu-tidaknya daerah membentuk DRD, UU No. 18/2002 menetapkan hal tersebut. Di era otonomi dan persaingan global, DRD yang kuat bisa menjadi motor pembaruan dalam memperkuat sistem inovasi dan pembangunan daerah umumnya di Indonesia.

Sebetulnya tak perlu muluk-muluk, untuk tahap awal setiap DRD perlu diperkuat agar :

  • memiliki kemampuan “melaksanakan tugas dan fungsi” yang pokok (seperti diungkapkan dalam UU No. 18/2002)
  • memiliki kemampuan “merespon” isu penting/strategis (dan aktual) yang relevan
  • menjadi “kelompok yang berwibawa dan berpengaruh” dalam kebijakan publik yang relevan dan dalam perbaikan kebijakan
  • memiliki “kepioniran/ keprakarsaan” dalam perbaikan kebijakan.

Bukan hanya pemerintah daerah yang semestinya memiliki perhatian dan kesungguhan mendorongnya, tetapi juga kalangan akademisi/litbangyasa, dunia usaha dan tokoh masyarakat di daerah perlu perduli tentang hal ini.

Jika diperlukan, bahan tambahan terkait tentang ini bisa dilihat juga di http://www.scribd.com/doc/5269839/Tutorial-DRD-di-Surakarta-26-Juni-2008. Silahkan dimanfaatkan