jump to navigation

“Ngabuburit” dalam Penguatan Sistem Inovasi . . . September 5, 2008

Posted by Tatang in Beranda.
Tags: , , , , ,
add a comment

Rabu, 3 September lalu, rekan-rekan di Ristek menyelenggarakan lanjutan diskusi penguatan sistem inovasi. Curah pikir menjelang buka puasa bersama kali ini menghadirkan Prof. Rahardi Ramelan (mantan Menperindag) dan Dr. Syahrul Aiman (Pusat Inovasi – LIPI).
Diskusi yang menyinggung soal “ideologi teknologi” yang saya kira memang semestinya menjadi bagian pembaruan dalam memaknai dan mengisi kemerdekaan NKRI semakin menjadi isu nyata yang dihadapi. Bagi saya, “kemerdekaan teknologi”, yaitu kedaulatan kita sebagai suatu bangsa dan negara yang didukung kemampuan untuk menentukan pilihan terbaik teknologi bagi kepentingan bangsa dan NKRI, tidak boleh diabaikan. Dalam kaitan ini, di era global sekalipun, semangat “nasionalisme” tetap relevan dan harus diperkuat. Barangkali ini juga relevan dengan yang pernah disampaikan oleh Bung Karno pada peringatan Kemerdekaan RI tahun 1963, yang mengingatkan agar kita waspada agar tidak menjadi (maaf) “bangsa kuli” dan “kuli dari bangsa-bangsa (lain) . . .”
Wacana penguatan “kelembagaan” kebijakan inovasi (atau dewan kebijakan iptek/S&T Policy Council) juga diangkat. Di beberapa negara, perbaikan “penadbiran” (governance) seperti ini memang merupakan salah satu agenda untuk mengatasi fenomena umum “kebuntuan” koordinasi/koherensi kebijakan inovasi. Tentu tak seorang pun dapat “menjamin” apakah solusi demikian bisa efektif di Indonesia. Tetapi itu juga bukan berarti bahwa sistem pemerintahan Indonesia tak akan pernah mampu melaksanakan solusi-solusi demikian yang ternyata cukup efektif di negara lain.
Banyak hal lain yang didiskusikan dalam kesempatan singkat itu. Yang menarik adalah keterbukaan dan semangat peserta termasuk dari KNRT, BPPT, LIPI, Deperin, Bapenas, Dikti-Depdiknas, dan lainnya (sayang dari KADIN berhalangan hadir) untuk sungguh-sungguh mendiskusikan tema ini nampak berkembang dari waktu-waktu sebelumnya. Tentu obrolan dan gurauan dari pengalaman pak RR di tempat ”kos”-nya (LP Cipinang) menjadi selingan segar sore itu. Semangat Beliau untuk terus berbagi ilmu dan tetap membangun Indonesia membuat saya malu, tapi juga sekaligus melecut kembali semangat untuk belajar dan berbagi. Welcome back Sir !
Semoga silaturhim demikian terus berlanjut dan memberi manfaat bagi bangsa. Walahu alam bissawab . . .