jump to navigation

Dari Lokakarya Peningkatan Peran DRD Desember 16, 2008

Posted by Tatang in Beranda.
Tags: , , , , ,
add a comment

Walaupun ada dua narasumber yang batal hadir, di luar dugaan saya, diskusi sesi 1 [pleno] diwarnai antusiasme peserta [sebagian dari luar Jakarta] yang luar biasa.

Paparan dari Prof. Dr. Amin Subandrio [Deputi Menegristek Bidang Pengembangan Sipteknas] mengupas banyak isu penting terkait DRD dengan mengangkat topik “Hubungan dan Mekanisme Kerja DRN dan DRD dalam Penguatan Sistem Inovasi Nasional.” Beberapa butir penting yang sempat saya catat antara lain adalah : 1. Iptek bukanlah “area” yang terisolasi. Agar berkembang dan bermanfaat nyata, ia harus menjadi bagian integral dari sistem inovasi; 2. Pembentukan DRD merupakan keharusan yang digariskan oleh undang-undang [UU No. 18/2002]; 3. Pemda berkewajiban mendukung DRD [termasuk dalam aspek pembiayaan]; 4. DRD merupakan suatu lembaga non struktural dalam tataran pemerintahan daerah; 5. Penyebutan “DRD” memang digariskan oleh perundangan; 6. DRD akan efektif jika ia menjadi lembaga yang dapat mempengaruhi perbaikan kebijakan-kebijakan publik di daerah.

Narasumber kedua adalah Dr. Syachrumsyah Asri, SH, MSi, Wakil Ketua DRD Provinsi Kaltim. Pembicara berbagi pengalaman DRD kaltim sejauh ini, termasuk liku-liku politik daerah yang mau-tidak mau mempengaruhi perjalanan DRD Kaltim.

Narasumber ketiga adalah Prof. Dr. Siti Fatimah Muis, Ketua DRD Provinsi Jateng. Dalam penyampaian yang demikian lugas,  mengungkap banyak hal yang menurut hemat saya dapat menjadi pelajaran berharga bagi daerah lain, termasuk tentu saja keterbatasan yang masih dihadapi. Prof Siti mengakui bahwa sejauh ini agenda DRD masih “berfokus” pada sisi riset dan keiptekan, namun belum menekankan bagaimana keterkaitannya dengan dunia industri dan mengorientasikan aktivitas litbangyasa di Jateng yang memang berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan nyata industri.

Narasumber keempat [terakhir pada sesi 1] adalah Dr. Hasan Basri Junin, Ketua DRD Provinsi Riau, yang juga berbagi pengalaman perjalanan DRD Provinsi Riau sejauh ini. Dengan gaya khas yang diselingi gurauan, Dr. Hasan mampu menyajikan informasi berharga tentang berbagai kendala yang dihadapi menjadi sesuatu yang sebenarnya berguna sebagai pelajaran penting bagi peserta.

Walaupun sesi tanya-jawab [diskusi] saya berikan dua kali, namun waktu yang disediakan panitia “terlampaui.” Meskipun ditambah 30 menit, tetap saja tidak dapat menuntaskan jawaban yang diminta peserta dari para narasumber. Cukup banyak peserta yang bertanya [dan juga menyampaikan saran]. Setiap peserta umumnya menyampaikan “pengantar” yang cukup panjang mengawali pertanyaan masing-masing yang umumnya lebih dari tiga. Secara umum, isu peran, bentuk kelembagaan, mekanisme hubungan kelembagaan [antarlembaga], pendanaan, dan konteks peraturan perundangan mewarnai pertanyaan peserta.

Membangun DRD sebagai suatu lembaga fungsional modern yang efektif memang merupakan suatu tantangan di Indonesia. Ini merupakan pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, dan sebenarnya merupakan tanggung jawab bersama komunitas iptek saja, tetapi juga birokrasi, dunia usaha, dan kalangan politisi. Betapa pentingnya tentu saja peran DRD ke depan terutama dalam mendorong pembangunan daerah menuju knowledge based economy dan knowledge based society.

Dalam beberapa kali kesempatan [di Jakarta dan beberapa daerah] saya pernah menyampaikan beberapa “kriteria” DRD yang berhasil [lihat taut pada blog opini pribadi saya].

Sayangnya, saya tidak dapat menghadiri diskusi pada sesi kedua, karena harus segera memimpin rapat.

Peningkatan Peran Dewan Riset Daerah [DRD] Desember 13, 2008

Posted by Tatang in Beranda.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Salah satu agenda penting dalam pengembangan/penguatan sistem inovasi adalah penguatan kelembagaan. Pentingnya kelembagaan, dalam arti ”organisasi dan pengorganisasian” juga telah disebutkan dalam UU No. 18/2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan  Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

”Dewan riset” (research council), baik pada tataran nasional maupun daerah, diyakini sebagai salah satu yang diperlukan dalam sistem inovasi. Dalam praktiknya di berbagai negara, peran utama suatu dewan riset biasanya adalah sebagai ”dewan penasihat” (advisory council) bagi pemerintah. Dewan riset ini memang pada dasarnya berbeda dari ”dewan kebijakan” (policy council) yang biasanya memiliki peran sebagai ”pembuat/penentu kebijakan.”

Tidak seperti yang digariskan dalam UU No. 18/2002 tersebut, dalam kenyataannya tidak (belum) semua daerah otonom membentuk Dewan Riset Daerah (DRD).

Di antara beberapa ”isu” yang ditengarai mempengaruhi hal ini adalah menyangkut : pemahaman tentang DRD; persepsi tentang lingkup tugas, fungsi dan kewenangannya; bagaimana mekanisme kerjanya; serta sarana dan mekanisme koordinasi antardaerah (DRD) dan antara DRD dengan DRN.

Untuk mengupas hal tersebut, Dewan Riset Nasional (DRN) menyelenggarakan lokakarya bertemakan ”Penguatan Kelembagaan untuk Meningkatkan Peran Dewan Riset Daerah (DRD) dalam Pembangunan Daerah,” pada hari Senin, 12 Desember 2008 di Ruang Komisi Utama Lantai 3, Gedung 2 BPPT.

Saya mendapat undangan untuk menjadi moderator pada Sesi 1 (pleno) dalam lokakarya tersebut. Ini tentu menarik buat saya. Dalam berbagai kesempatan, baik pada tingkat nasional ataupun daerah, isu-isu seperti yang disebutkan memang hampir selalu muncul.

Harapan panitia bahwa lokakarya ini akan menghasilkan beberapa kesepakatan mungkin memang tidak mudah dicapai, kecuali proses ini telah diawali dengan serangkaian aktivitas sebelumnya yang mendukung dan lokakarya tersebut memang telah dirancang dan dipersiapkan untuk khusus untuk mencapai beberapa kesepakatan.

Walaupun begitu, saya sendiri sangat berharap bahwa aktivitas tersebut akan bermanfaat dalam mendorong penguatan kelembagaan DRD di daerah-daerah otonom di Indonesia [setidaknya pada tingkat provinsi] dan hubungan kelembagaan antara DRD dengan DRN bagi pemajuan sistem inovasi di Indonesia.

Semoga.

Catatan : tulisan-tulisan berkaitan dengan topik ini juga dapat dilihat di blog opini pribadi saya dan blog terkait lain.

 

HAKTEKNAS di Kota Pekalongan, 12-13 Agustus 2008 Agustus 17, 2008

Posted by Tatang in LAIN-LAIN.
Tags: , , , , , , ,
3 comments

Kota Pekalongan memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTKENAS) ke-13 pada tanggal 12-13 Agustus 2008. Ada hal menarik dari kegiatan ini.

Museum Batik Nusantara

Museum Batik Nusantara

Dalam bidang TIK, Pemkot Pekalongan telah mengadopsi kerangka e-development yang direkomendasikan oleh PTIK-BPPT. E-development yang merupakan kerangka pendekatan pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara integral dalam pembangunan telah menjadi komitmen Pemerintah Kota Pekalongan. Hal ini juga menjadi pilar penting dalam pembangunan menuju ekonomi pengetahuan (knowledge economy) dan masyarakat berpengetahuan (knowledge society) di Kota Pekalongan. Dalam kerangka strategi e-development ini, maka agenda tindakan yang berkaitan dengan bidang TIK tentunya tak lagi dapat dilakukan secara parsial dan seolah sekedar menjadi langkah latah meniru daerah/negara lain. Kesungguhan semua pihak menjadi prasyarat mutlak bagi keberhasilan.

Secara umum, e-development menyangkut langkah perbaikan pengembangan dan pemanfaatan TIK secara seimbang dan dinamis elemen-elemen penting seperti: (1) kepemimpinan, kebijakan dan kelembagan; (2) infrastruktur informasi dan komunikasi yang terpadu; (3) penerapan TIK di pemerintahan (e-government); (4) pemanfatan TIK dalam pembangunan masyarakat (e-society); dan (5) pengembangan industri TIK dan pemanfaatannya bagi bisnis (e-Business). Sudah barang tentu peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian tak terpisahkan dalam kesemua elemen tersebut.

Dalam momentum peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-13 ini, Kota Pekalongan mencanangkan “e-PEKALONGAN@BATIK-CITY-2010”, dengan tujuan:

e-development untuk mendorong percepatan pewujudan good governance, pendidikan berkualitas, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi kreatif Kota Pekalongan 2010”.

 

Langkah ini dibangun atas kemitraan antara Pemkot Pekalongan, dunia usaha, komunitas pendidikan, organisasi non pemerintah, dan masyarakat umum. Gerakan ini juga telah didukung oleh kolaborasi berbagai pihak, khususnya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (KNPP), Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Departemen Perindustrian, Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga (KNPO), Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat “Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil” (PUPUK).

 

 

Milestones

Hingga saat ini, beberapa prakarsa telah dilaksanakan dengan hasil sementara seperti berikut.

1. Pengembangan E-leadership, Penataan Kebijakan dan Kelembagaan:

  • Pelaksanaan rangkaian seminar, workshop, dan diskusi tentang pengembangan dan pendayagunaan TIK dalam pembangunan daerah.
  • Penyusunan rencana strategis TIK Kota Pekalongan dan penggalian masukan untuk penataan kebijakan TIK di Kota Pekalongan.
  • Penetapan satuan kerja (SOTK) baru di lingkungan Pemkot Pekalongan.
  • Pengembangan IGOS Center Kota Pekalongan.
  • Apresiasi (dari Pemkot dan BPPT) terhadap organisasi yang menjadi pelopor dalam gerakan pengembangan dan pemanfaatan TIK legal: STMIK Widya Pratama dan SMKN 2 Pekalongan.

 

2. Pengembangan Infrastruktur Informasi dan Komunikasi Terpadu di Kota Pekalongan:

  • Ditatanya prasarana dan sarana infokom di beberapa simpul jaringan dan sistem komunikasi di beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), termasuk 4 kecamatan, dan 1 kelurahan percontohan. Jaring infokom terpadu yang akan dibangun ke depan adalah BatikNet.
  • Instalasi beberapa paket perangkat lunak untuk mendukung Sistem Informasi Manajemen Daerah, Kantor Maya (KANTAYA), dan SMS Center Kota Pekalongan.
  • Pelatihan administrasi jaringan.
  • Inisiasi penataan Jardiknas di Kota Pekalongan dan instalasi 5 server di sekolah percontohan.
  • Peluncuran Hot spot Mataram.

 

3. Prakarsa Migrasi ke Penggunaan Perangkat Lunak Legal:

  • TOT (Training for the Trainers) migrasi ke perangkat lunak legal.
  • Proses migrasi di beberapa SKPD, perguruan tinggi dan sekolah pelopor.
  • Pemkot Pekalongan beserta stakeholder setempat mendeklarasikan migrasi ke penggunaan perangkat lunak legal di lingkungan Pemkot (SKPD) beserta sekolah dan perguruan tinggi negeri. Pemkot Pekalongan merupakan Pemkot pertama di Indonesia yang mendeklarasikan migrasi ke penggunaan perangkat legal.

 

4. Pengembangan Telecenter dalam rangka Perkuatan Klaster Industri Unggulan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat di Kota Pekalongan

  • Workshop pengembangan telecenter/multipurpose community telecenter, sebagai suatu fasilitas pemberdayaan komunitas yang diperkuat dengan akses TIK.
  • Pelatihan penggunaan perangkat lunak legal dan murah berbasis FOSS (Free/Open Source Software), termasuk “Batik Fractal” untuk desain.
  • Pengembangan percontohan beberapa telecenter di Kota Pekalongan (lokasi, fasilitas dan sarana dasar, penyediaan paket/perangkat lunak pendukung, penataan jaringan lokal, akses internet). Empat telecenter mulai dikembangkan, yaitu: Telecenter Museum Batik Nusantara, Telecenter Grosir Batik Setono, Telecenter Widya Pratama, dan Telecenter Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Remaja.
  • Bantuan dan sumbangan perangkat komputer dan buku dari BPPT dan KNRT.
  • Sumbangan laptop dari swasta.

 

5. Alih Pengetahuan/Teknologi kepada Masyarakat di Bidang TIK

  • Pelatihan TIK kepada Kelompok Perempuan dan Pemuda.
  • Penyediaan akses kepada sumber pendidikan.

 

6. Pengembangan Basisdata dan Indikator TIK Daerah

  • Sosialisasi dan pelatihan pengembangan basisdata dan indikator TIK dan indikator sensitif gender di Kota Pekalongan.
  • Penyiapan dan publikasi awal indikator TIK Kota Pekalongan.

 

7. Peluncuran Produk TIK BPPT

  • Peluncuran kepada publik (public release) : Rebundle Package Produk TIK Berbasis FOSS (berisis paket SIMDA, KANTAYA, dan lainnya)
  • Peluncuran kepada publik (public release) produk baru TIK:
  1. ILVC : IGOS Linux Voice Command – Linux yang dijalankan dengan suara
  2. SIDoBI 1.4 : Sistem Ikhtisar Dokumen Berbahasa Indonesia.
  3. Sukolix : Swauji Kompetensi Linux
  4. Website/portal untuk komunitas telecenter : http://www.kriyamaya.or.id
  5. Website/portal untuk basisdata dan indikator TIK : http://www.tikometer.or.id

 

 

Selamat Datang di Blog Sistem Inovasi Juli 31, 2008

Posted by Tatang in Selamat Datang.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,
add a comment

Selamat datang di sisteminovasi.WordPress.com.

Blog ini akan memuat beberapa diskusi tentang sistem inovasi secara umum, sistem inovasi nasional, sistem inovasi daerah, sistem inovasi industrial/sektoral, dan beberapa isu terkait seperti pengembangan ekonomi lokal/daerah, peningkatan daya saing, pemberdayaan masyarakat, e-development, dan lainnya.