jump to navigation

Workshop FOSS untuk Mendukung Industri Kreatif November 29, 2008

Posted by Tatang in E-development.
Tags: , , , , , , , , ,
add a comment

Maaf info ini sedikit kadaluarsa. Tanggal 12 November 2008 lalu rekan-rekan dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) – BPPT bersama mitra kerja lain seperti PUPUK, Kompas, Unpad, dan lainnya menyelenggarakan workshop [dan pelatihan pada dua hari berikutnya] sebagi salah satu upaya mendorong pendayagunaan FOSS [Free/Open Source Software] dalam peningkatan daya saing ukm kreatif di Jawa Barat.

Dari topik yang lebih bersifat “umum” hingga lebih “teknis” dibahas dalam kesempatan singkat tersebut.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut juga ditandatangani naskah kerjasama antara BPPT dengan PUPUK dan KADIN Kota Tasikmalaya. Ini lebih formalisasi, karena kerjasama sesungguhnya antara rekan-rekan di BPPT dengan rekan-rekan di PUPUK sudah berlangsung lama, dan dengan KADIN Kota Tasikmalaya telah berjalan sejak awal tahun ini. Semoga kerjasama tersebut terus berjalan baik dan bermanfaat.

 

Paparan dalam Workshop FOSS

Paparan dalam Workshop FOSS

 

 

Iklan

E-readiness Indonesia 2008 (Versi EIU) September 16, 2008

Posted by Tatang in E-development, TIKoMeter.
Tags: , , , , , , , , , ,
add a comment

Salah satu upaya untuk menelaah e-readiness tingkat negara adalah yang dilakukan oleh “the Economist Intelligence Unit (EIU)” yang telah melakukannya sejak tahun 2000. E-readiness ini mengindikasikan bagaimana suatu negara mampu “menyerap” kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan mendayagunakannya untuk kemanfaatan ekonomi dan sosial. Pada dasarnya, e-readiness yang dikembangkan oleh EIU mengungkapkan ukuran kualitas infrastruktur TIK suatu negara dan kemampuan kalangan konsumen, bisnis dan pemerintah memanfaatkannya.

Mereka mengelompokkan kriteria penilaian atas 6 kategori, yaitu Konektivitas dan Infrastruktur Teknologi/Connectivity and Technology Infrastructure (Bobot: 20%), Lingkungan Bisnis/Business Environment (15%), Lingkungan Sosial dan Budaya/Social and Cultural Environment (15%), Lingkungan Legal/Legal Environment (10%), Kebijakan dan Visi pemerintah/Government Policy and Vision (15%), dan Adopsi oleh Konsumen dan Bisnis/Consumer and Business Adoption (25%).

Dalam publikasi terakhir (2008, Klik di sini), Indonesia memiliki skor 3,59 (sedikit meningkat dari 3,39 pada tahun 2007) dan berada pada urutan 68 (dari 70 negara yang disurvei; urutan 67 pada tahun 2007). Posisi ini memang bahkan lebih rendah dari Vietnam sekalipun (dengan skor 4,03 dan pada urutan 65).

Wah, maaf, saya tidak bermaksud menambah dan menyebarluaskan berita kesedihan. Tapi sebaliknya, ini keprihatinan, yang mudah-mudahan justru bisa menjadi cambuk agar lebih memotivasi kita semua untuk berjuang lebih baik untuk perbaikan dalam masyarakat.